“Apa! Dimana kau jatuhkan tas yang berisi emas itu?”, bentak Ardian kepada Hamdi. Mendengarnya Hamdi hanya bisa tertunduk diam. Mukanya pucat. Tampak bulir-bulir keringat turun membasahi dahinya. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Nafasnya mulai tidak beraturan.
“Se-sepertinya tas itu jatuh saat kita buru-buru melompati pagar rumah orang itu”. Jawabnya dengan sedikit terbata-bata.
“Sialan!”, Makinya dengan memukul meja yang ada di dekatnya. Hamdi semakin gemetar mendengar hentakan yang sangat keras itu. Mukanya semakin pucat, dia kini terlihat seperti orang yang sudah mati. Melihat ekspresi Hamdi yang begitu ketakutan, muncul juga rasa iba di hatinya. Ardian lalu memeluk erat tubuh Hamdi yang sedang gemetaran tersebut sembari berkata,“Ya sudahlah, lupakan hal itu. Tenang saja. Tapi ingat! Jangan pernah lagi kau menjatuhkannya. Ini demi keluarga kita.” Bujuk Ardian menenangkan kepanikan Hamdi dan melepaskan pelukannya.
“Besok tolong kau berikan uang ini ke bunda, biar aku saja yang menjual barang-barang curian ini”
“Setelah itu?” tanya Hamdi penasaran.
“Tentu saja uangnya kita simpan untuk kebutuhan kita.”
“Tapi itu banyak sekali.”
“Sudahlah, kau jangan banyak komentar! Kita juga butuh uang, lagipula uang lima juta itu sudah cukup untuk mereka.”
Tanpa banyak komentar lagi Hamdi hanya mengangguk patuh. Namun di lubuk hatinya ada sesuatu yang bergejolak. Gejolak antara naluri hatinya dan naluri tubuhnya. Dia sadar bahwa apa yang dilakukan dia dan sahabatnya adalah hal yang salah, namun dia tidak terlalu berani untuk memberontak melawan perintah Ardian.
Besoknya, sesuai perintah Ardian, Hamdi pergi mengantar uang tersebut ke sebuah panti asuhan kecil di pinggiran kota. Tampak papan nama bertuliskan Panti Asuhan Bunda Maria di samping pagar bangunan. Papan nama yang sudah sangat usang. Ada banyak karat serta cat yang sudah luntur di sekitar tulisannya, sehingga ada beberapa huruf yang hilang. Orang yang lewat disana pasti membacanya “ANTI ASU UDA ARI”.
Sesampainya di teras rumah, Hamdi langsung mengetuk-ngetuk pintu. Dari dalam terdengar tawa serta teriakan kegirangan anak-anak kecil. Terdengar begitu riuh dan ramai. Lalu muncul sesosok wanita muda yang mengenakan pakaian lusuh serta serbet di bahunya.
“Mas Hamdi! Apa kabar?” gadis itu tampak terkejut seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilihat di depan matanya.
“Mas baik-baik saja. Kau sendiri apa kabarnya Lin?”
“Yah.. Seperti yang mas lihat, Linda sehat-sehat saja. Sudah lama sekali mas tidak kesini. Oya, mana mas Ardian? Bunda terus-terusan bertanya kabar kalian berdua. Tampaknya bunda khawatir sekali dengan keadaan kalian.”
Hamdi menundukkan kepalanya sebentar lalu menjawabnya pelan, “Dia sedang ada banyak pekerjaan di kantornya, tapi dia baik-baik sa..” tiba-tiba lidahnya kaku beku begitu melihat wanita tua yang duduk di kursi goyang sembari asyik menikmati tayangan televisi. Hamdi langsung berlari kearah wanita itu lalu duduk bersujud di depan kakinya. Matanya mulai menjatuhkan tetesan-tetesan air, semakin lama semakin deras diikuti suara isak tangis pelepas kerinduannya.
“Bunda, i-ini Hamdi. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku rindu sekali dengan bunda. Apa bunda merindukanku juga?”
“Tidak ada seorangpun ibu di dunia ini yang tidak merindukan kehadiran anak-anaknya. Tidak seharipun bunda melupakan kau. Bayanganmu selalu muncul di benakku. Bayangan ketika kau masih berlari-larian di rumah ini bersama Ardian.” Sahutnya pelan. Suaranya begitu lemah dan lembut seperti sang mentari yang dapat menghangatkan apa saja yang disinarinya.
Di pangkuan bunda, masih sambil bersujud Hamdi kembali teringat dengan masa lalunya bersama Ardian dan Linda ketika mereka masih berumur 15 tahun. Bermain, berlari, bercanda dan tertawa-tawa lepas di bawah atap panti asuhan yang sudah lapuk dan berwarna kecoklat-coklatan itu akibat genting yang sudah bocor.
“Hamdi, coba kau kesini. Cepat!” kata Ardian dengan sedikit keras.
“Sebentar, aku sedang mengelem sepatuku. Kalau tidak ku selesaikan sekarang, besok aku tidak bisa pergi ke sekolah.”
“Tinggalkan saja itu, sekolah tidak akan menjadikannmu orang kaya. Tapi lihat orang yang ada di televisi ini, dia menjadi kaya karena mengambil uang dari kita, orang miskin. Kita selamanya akan terus begini selama kita belum melenyapkan orang-orang seperti ini.”
“Jadi kau mau apa? Membunuhnya? Mencuri semua uangnya? Pada akhirnya orang seperti kita tidak bisa melakukan apa-apa.”
Ardian tiba-tiba tersentak seakan mendapatkan kejutan listrik di seluruh badannya. Dia lalu meloncat dari kursi, berlari menghampiri Hamdi seraya menepuk pundakknya dengan keras.
“Aduh, Sakit! Maaf kalau aku terlalu lancang.” Hamdi terkejut melihat reaksi Ardian, takut kalau-kalau dia marah karena perkataannnya barusan.
“Tidak, itu adalah ide paling brilian.”
“Maksudmu?” Tanya Hamdi penasaran. Kebingungan terhadap ekspresi aneh yang ditampilkan wajah Ardian terhadapnya.
“Kita akan mengambil seluruh uang dari orang-orang seperti itu”
“Hentikan ide itu Ardi, itu bukan ide brilian tapi gila. Itu Kriminal!” terdengar suara perempuan dari belakang mereka. Ternyata itu suara Linda. Sementara Hamdi masih bingung terhadap perkataan Ardian. Dia tidak tahu harus berkata apa.
“Bila kalian sampai tertangkap, bunda akan sangat sedih.” Tambah Linda.
“Ini bukan urusan anak perempuan!” Ardian lalu pergi meninggalkan Linda dan Hamdi yang masih saja kebingungan.
Besoknya bunda menyuruh Hamdi pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan.
“Bunda, aku akan pergi juga untuk menemani Hamdi. Dia kan sangat penakut. Mungkin saja disana uangnya akan dicuri oleh orang, bisa apa dia sendirian.” Sahut Ardian yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
“Baiklah, temani Hamdi. Tapi kamu juga harus hati-hati. Simpan uangnya di kantong, jangan sampai ada orang yang melihatnya atau pegang erat-erat di tangan. Bunda do’akan semoga tidak ada hal buruk yang terjadi kepada kalian berdua. Dan semoga Tuhan memberkati kalian selama perjalanan.”
“Amin… sekarang kami berangkat ya bunda.” Jawab Ardian dan Hamdi hampir berbarengan lalu berbalik pergi meninggalkan bunda sendirian di teras rumah.
“Sepertinya aku punya firasat buruk terhadap mereka.” Sahut Linda dari balik pintu rumah.
“Jangan begitu, kita do’akan saja semoga mereka akan baik-baik saja. Ayo masuk, bantu bunda menyiapkan bumbu-bumbunya sebelum bahannya datang.”
“Oke bunda.” Jawab Linda penuh semangat.
Setelah selesai membeli apa saja yang tertulis di catatan, di luar pasar Ardian melihat ada seorang laki-laki yang baru saja turun dari mobilnya. Laki-laki tersebut sudah cukup tua, tampilannya sangat rapi dan terlihat elegan karena dia mengenakan jas dan dasi. Sebenarnya tidak ada yang mencolok dari penampilannya, hanya saja pasar yang di datangi mereka adalah pasar tradisional yang kumuh, sehingga penampilan laki-laki tersebut sangat kentara.
“Hey Hamdi, kau lihat laki-laki yang sedang memegang handphone di samping mobil itu?” kata Ardian sembari menunjuk ke arah laki-laki yang dilihatnya tadi.
“Iya, kenapa?” Tanya Hamdi heran.
“Kita akan mencuri uangnya. Dia termasuk salah satu orang yang membuat kita seperti ini!” Jawab Ardian dengan mantap.
“Gila kau, kalau ketahuan bisa mati dihajar kita.”
“Begini rencananya, saat dia masuk ke pasar, aku akan menempel di belakangnya, setidaknya dia tidak akan curiga karena pasar disini memang ramai. Dan kau akan mengikutiku dari belakang, saat aku berhasil menarik dompetnya, lalu akan ku taruh ke tas belanja yang kau pegang. Selanjutnya kita berjalan bertolak arah, kau ke kiri dan aku akan ke kanan.”
“Bagaimana kalau mereka akan mengejarmu? Kalau om itu sadar bahwa dompetnya hilang, tentu saja dia akan tahu bahwa kau pelakunya dan akan mengejarmu. Karena kau berada tepat di belakangnya.”
“Karena itulah aku tidak menyuruhmu untuk melakukan bagianku, aku bisa berlari cukup cepat dan aku sangat tahu seluk-beluk pasar ini. Saat mereka mengejarku itulah kau harus berlari secepat mungkin ke arah yang sebaliknya. Nanti kita akan bertemu lagi di perempatan yang ada di seberang pasar ini. Mengerti?”
“Tapi… a-aku takut sekali” Hamdi mulai terbata-bata pertanda bahwa dirinya sudah sangat takut dan panik hanya karena membayangkan hal terburuk yang akan terjadi kepada mereka jika tertangkap.
“Sudahlah, jangan takut. Kau itu laki-laki. Lagipula tugasmu hanya berlari ke arah yang aman, tidak akan ada yang mencurigaimu. Bayangkan wajah bahagia bunda ketika kita bisa memberinya banyak uang. Dia pasti senang sekali.”
Hamdi lalu membayangkan wajah bundanya yang tersenyum bahagia. Begitu ceria, wajahnya selalu bisa menenangkan hati Hamdi bahkan di saat ketakutan sekalipun. Walaupun bunda bukanlah merupakan ibu kandungnya, begitu juga dengan Ardian dan Linda, namun baginya bunda adalah orang paling berharga di hidupnya. Dia tidak ingin memudarkan wajah yang ceria tersebut, selayaknya matahari yang tidak lagi bisa menghangatkan bumi, maka bumi akan menjadi begitu dingin lalu tidak akan ada kehidupan dia atasnya.
“Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi hal ini untuk bunda.” Hamdi lalu bangkit, wajahnya kini terlihat sangat antusias.
“Benar, untuk bunda.” Sahut Ardian.
Merekapun mulai melancarkan aksinya. Sesuai rencana, Ardian mengikuti laki-laki tersebut dari belakang lalu Hamdi yang berjalan di belakang Ardian. Selama Ardian melakukan tugasnya, yaitu mencoba menarik dompet laki-laki itu, Hamdi melakukan pembicaraan ke hatinya, “benarkah yang sedang ku lakukan ini ya Tuhan? Mohon lindungi kami, jangan biarkan kami mengalami hal yang buruk.”
“Hei, lari!” dengan pelan Ardian membisikkan kata-kata itu ke telinga Hamdi.
Hamdi pun tersadar dari do’a nya, dia melihat ada sebuah dompet di tas belanjaan milikknya. Sesaat Hamdi lupa apa yang harus dilakukannya. Dia bingung apa langkah selanjutnya.
“Lari, tolol!” kata Ardian kepada Hamdi, kali ini sedikit keras.
Laki-laki tersebut mulai memeriksa dompetnya, dan ternyata sudah tidak ada. Diapun membalikkan badannya. Sebelum laki-laki itu melihat mereka berdua, Ardian mengambil inisiatif untuk langsung berlari agar dapat mengalihkan perhatian orang tersebut. Dan hal itu sangat berhasil, orang tersebut langsung menyimpulkan bahwa dompetnya telah diambil oleh Ardian, terbukti dari tindakannya yang langsung meneriaki “maling!” ke arah Ardian yang sedang berlari. Melihat hal tersebut, Hamdi langsung pergi menjauh dari tempat kejadian menuju ke tempat yang sudah dijanjikan mereka untuk bertemu kembali. Dan hal itupun berhasil dilakukannya, tidak ada seorangpun di pasar tadi yang mencurigai bahwa Hamdi telah menadah dompet hasil curian Ardian.
Jam di simpang jalan tersebut sudah menunjukkan pukul 15.00, artinya sudah hampir ima jam lebih semenjak kejadian tersebut dan Ardian belum kembali. Rasa cemas mulai menghantui Hamdi, pelan-pelan perasaan tersebut mulai merasuki pikiran lalu ke hatinya. Hamdi lalu terduduk dan menagis terisak-isak membayangkan hal yang mungkin saat ini terjadi pada diri Hamdi.
“Dasar laki-laki cengeng! Kau bahkan seharusnya tidak pantas untuk disebut sebagai laki-laki.”
Mendengar suara itu, Hamdi lalu terhenyak dari tangisannya dan menatap ke arah asal suara itu. Ternyata itu adalah Ardian. Kini dia tepat berada di hadapannya tanpa ada luka sedikitpun. Spontan, Hamdi pun langsung memeluk erat Ardian dan kembali menangis.
“Sudah, hentikan tangisannmu. Aku tidak butuh itu. Mana dompetnya?”
Hamdi lalu menyerahkan dompet itu kepada Ardian. Dan isi dompet itu hanyalah uang tunai sejumlah Rp 530.000,- dan selebihnya hanya kartu-kartu ATM dan Kartu Kredit pemiliknya. Ardian lalu mengambil semua uang tunai tersebut dan membuang dompet beserta kartu-kartunya ke saluran air yang ada di dekatnya. Saat menyerahkannya kepada bunda, Ardian hanya memberikan Rp 250.000,- saja dan mengaku bahwa uang tersebut adalah imbalan karena dia telah menolong orang untuk menjualkan barangnya di pasar, dan itu pulalah alasan kenapa mereka pulang sangat sore.
Namun Hamdi sangat kecewa, karena tidak melihat sedikitpun ekspresi ceria maupun bahagia bundanya, melainkan wajah yang sangat khawatir terhadap anak-anaknya.
Itulah pengalaman pertama mereka dalam mencuri, mereka punya prinsip hanya mencuri dari orang yang sangat kaya, karena menurut mereka orang-orang itulah yang membuat orang-orang miskin seperti mereka semakin menderita. Dan hal itu mereka lakukan sampai dewasa, dan mengaku bahwa mereka sudah mendapat pekerjaan yang mapan di kota.
“Mau sampai kapan kau bersujud di kaki bunda mas? Ini, ada teh hijau kesukaan mas, supaya syaraf-syaraf di badan mas bisa sedikit santai.” Kata Linda sambil membawakan nampan dengan segelas teh hijau di atasnya.
Suara tersebut membangunkannya dari lamunan kenangannya lalu beranjak dan meminum teh hijau kesukaannya, “Terima kasih Lin, kamu selalu baik. Tapi sepertinya aku tidak bisa lama-lama, aku juga sebenarnya masih ada pekerjaan di kantor.”
“Buru-buru sekali mas. Padahal datang ke sini juga mungkin setahun sekali.”
“Tidak apa-apa Lin, biarkan dia pergi. Walaupun hanya sebentar, bunda sudah amat sangat senang dengan kedatangannya, lagipula kita juga tidak dapat memaksanya, dia sudah menjadi laki-laki dewasa yang mapan.”
Di hati Hamdi, perkataan tersebut sangat menyayat hatinya, menyadari betapa kejam dirinya telah membohongi keluarganya selama bertahun-tahun. Hamdi lalu memeluk erat bunda, cukup lama, seakan-akan itu adalah pelukan terakhir baginya dan tidak ingin melepasnya. Setelah momen mengharukan tersebut selesai, Hamdi berpamitan kepada bunda dan Linda.
“Hati-hati di perjalanan mas, sering-seringlah main kesini.”
“Iya.” Jawab Hamdi sekenanya.
“Oke. Sekali iya, berarti itu janji, janji adalah hutang, dan hutang harus dilunasi. Awas lho kalau sampai tidak ditepati.”
Hamdi hanya tersenyum saja mendengarnya lalu dengan langkah yang berat dia berbalik dan pergi meninggalkan panti asuhan tersebut.
Di perjalanan pulang, Hamdi bertemu dengan Ardian yang tampak sangat kegirangan. Sepertinya dia telah berhasil menjual semua barang-barang curian tersebut.
“Eh di, aku punya rencana bagus banget buat malamini, kali ini dijamin akan lebih lancer disbanding malam sebelumnya.” Ardian mulai mengeluarkan idenya.
“Sebaiknya kita istirahat dulu, barang-barang yang kita curi tadi malam juga cukup mahal kan.” Sahutnya.
“Eits, lihat dulu donk. Ini rumah Pak Bagus, tersangka korupsi 2M, saat ini dia ada di penjara, istri dan anak-anaknya pasti tidak akan ada di rumah karena sudah terlanjur malu terhadap kelakuan kepala rumah tangga mereka ini. Malam hari satpam yang menjaga hanya dua orang, karena dia sudah mengerahkan banyak satpam di siang hari untuk menghadang peliput berita yang ingin meliput kediamannya.” Jelas Ardian dengan sangat antusias.
“Aku tetap tidak mau.” Tegas Hamdi.
“Oke, begini saja, aku janji ini adalah aksi kita yang terakhir.”
Hamdi langsung melirik ke arah Ardian, seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
“Sepertinya ada yang salah dengan telingaku, sesaat tadi aku mendengar kau mengucapkan bahwa ini adalah aksi terakhir.”
“Sumpah. Ini akan jadi yang terakhir untuk kita.”
“Baiklah, aku pegang sumpahmu. Jadi bagaimana rencananya?”
“Begini, kebetulan rumah yang ada di sebelahnya adalah milik sahabatku, tadi aku baru saja menyewa rumah itu darinya. Dari rumah sebelah kita akan memanjat lewat tembok samping, tidak akan ada tetangga yang melihat karena tembok di sekelilingnya terlalu tinggi, jadi tempat itu tertutup. Seperti biasa kita akan pakai tali agar tidak meninggalkan jejak. Sesampinya di rumah target, kita masuk lewat pintu dapur yang ada di belakang. Setelah itu kita tinggal berimprovisasi alias mencari sendiri-sendiri barang-barang yang berharga. Untuk keluar kita gunakan cara yang sama seperti kita masuk dan selesai.”
“Aku sedikit ragu kali ini, terlalu sederhana.” Komentar Hamdi.
“Bukankah sudah ku bilang kita tidak perlu rencana yang rumit, karena lawan kita hanya dua satpam pemalas. Sudahlah, ayo siapkan barang-barangnya, kita langsung ke rumah yang sudah ku sewa dan menunggu malam disana.”
Malamnya, saat yang telah ditentukan oleh mereka berdua untuk melancarkan aksinya. Malam yang sepi dan sunyi karena jam sudah menunjukkan pukul dua lewat empat puluh lima menit. Sesuai perkiraan, hanya ada dua satpam yang menjaga. Aksi mereka pun sangat lancar dan kini mereka telah berhasil memasuki ruangan tengah dan mulai berpencar. Ardian memeriksa kamar utama yang ada di lantai dua. Sedangkan Hamdi memeriksa barang-barang yang ada di lantai satu.
Di lantai dua Ardian mulai memasuki kamar utama dan tidak banyak menemukan barang-barang berharga. Ardian lalu menyimpulkan bahwa pasti keluarga ini menyimpan barangnya di sebuah lemari besi alias brankas. Benar saja, tidak lama kemudian Ardian menemukan lemari besi di lantai tertutup karpet. Ternyata lemari tersebut telah diberi sensor pendeteksi getaran, sehingga begitu Ardian mencoba membukanya secara paksa, alarm pun berbunyi dan lampu-lampu di rumah langsung menyala. Terlihatlah sosok Hamdi yang sedang mengobrak-abrik lantai bawah oleh dua satpam yang berjaga di dekat sana. Hamdi panik bukan kepalang, tanpa berpikir panjang lagi dia langsung berlari kearah pintu dapur. Bermaksud untuk keluar dari sana. Sialnya disana sudah menunggu dua satpam yang ternyata sudah mempunyai izin kepemilikan senjata api.
DOR! DOR! DOR!
Terdengar bunyi letusan senjata api dari arah bawah. Ardian langsung berlari ke arah sumber suara dan menemukan jasad Hamdi yang sudah tergeletak bersimbah darah dengan tiga lubang di perutnya. Hamdi langsung ditembak ditempat karena berusaha kabur dari kejaran dua satpam tersebut, dia masih mencoba kabur karena sudah sangat panik. Tinggallah Ardian yang terpaku melihat jasad orang yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandung tersebut terbujur kaku di hadapannya. Dia lalu mengangis, meraung, dan berteriak sekencang-kencangnya, mengutuk dirinya sendiri karena telah membuat sahabat serta saudaranya kehilangan nyawa, impian dan harapan untuk melihat wajah bahagia bundanya. Sekarang impian itu menjadi tidak mungkin untuk diwujudkan.
Ardian lalu diproses secara hukum dan divonis untuk menjalani masa penjara selama lima belas tahun. Selama berada di tahanan, Ardian mendapatkan bimbingan baik secara mental maupun spiritual untuk mengurangi beban rasa bersalahnya. Disana dia juga mendapatkan pelatihan kemampuan untuk berwirausaha, seperti menjahit, membuat kerajinan tangan, dan lain-lain. Dia menjalani kehidupannya disana dengan baik. Setiap seminggu sekali, bunda dan Linda dating menjenguknya, mereka tidak pernah menyalahkan apa yang sudah diperbuat oleh Ardian melainkan mendukungnya agar tetap semangat.
“Hamdi pasti juga menginginkan hal itu. Dia menginginkan kau, Linda, bunda serta anak-anak di panti asuhan merasa bahagia walaupun hidup dengan serba keterbatasan. Walaupun kita tidak memiliki harta materil, tapi kita punya keluarga, keluarga yangdibangun atas dasar kasih sayang. Sehingga akan memunculkan wajah-wajah bahagia setiap kita berbagi rasa kasih sayang tersebut kepada anggota keluarga lainnya.” Bunda berkata dengan penuh kelembutan, berusaha menggambarkan keinginan Hamdi.
Setelah lima belas tahun menjalani masa hukuman, Ardian mendapatkan bantuan modal usaha dari pemerintah. Kini dia bekerja keras membangun kembali panti asuhan yang telah menyimpan milyaran bahkan triliunan kenangan hangat bersama keluarganya.
Minggu, 24 April 2011
HAMDI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






finally... it's posted...
BalasHapus